Konsistensi sikap Mahfud MD dalam melawan korupsi perlu mendapat apresiasi. Dia menyatakan bahwa musuh terbesar bangsa Indonesia adalah para koruptor, bahkan penegak hukum dianggap lebih kecil daripada koruptor dengan menggunakan analogi tikus dan kucing. Menurut Mahfud yang mengklaim pernah menanyakan kepada ahli keuangan dari Amerika Serikat, jika dunia pertambangan kita dikelola secara profesional dan bebas dari korupsi maka setiap warga negara Indonesia setiap bulan mendapat nominal Rp. 20 juta rupiah.
Dukungan terhadap mahfud muncul dari lembaga swadaya masyarakat seperti ICW, menyatakan bahwa dukungan terhadap pemberantasan korupsi terutama KPK juga ditunjukkan ketika komisioner KPK dikriminalisasi pada 2009. Selain itu Mahfud juga menolak revisi UU KPK yang melemahkan pemberantasan korupsi. Dari track record seperti itu Mahfud dianggap layal untuk menjadi calon wakil presiden mendampingi Jokowi.
Persoalan korupsi di Indonesia telah menggurita sejak lama, yang konon merupakan warisan budaya kolonial Belanda yang lama menancapkan kukunya di tanah ibu pertiwi ini. Tidak hanya di tataran eksekutif, korupsi juga merajalela ke ranah legeslatif dan yudikatif. Bukti dari hal itu adalah dengan ditangkapnya beberapa pejabat kementerian, anggota legeslatif, maupun aparat penegak hukum oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Bahkan beberapa kali KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap kepala daerah, yang menunjukkan bahwa praktik korupsi telah menyebar ke daerah.
Praktik penjaja rente di lingkungan pemerintahan biasanya dimulai dari prencanaan, proses tender, hingga dalam eksekusi proyek. Kongkalikong antara pejabat pemerintah juga tidak jarang terjadi untuk menentukan seberapa besar fee yang akan diterima oleh masing pihak yang berkepentingan. Hal itu bukan dongeng namun fakta yang terungkap dari proses persidangan para tersangka tindak pidana korupsi di pengadilan tipikor. Seolah mereka tidak jera meskipun meniru dengan menggunakan pola lama. Tidak berhenti sampai di situ, praktik korupsi juga melibatkan orang-orang terdekat baik kolega maupun keluarga dekat. Bukti dari ini adalah adanya kepala daerah beserta istrinya yang ditangkap KPK.
Dari gambaran di atas menunjukkan bahwa komitmen penyelenggara negara untuk menciptakan pemerintahan yang bersih dan memiliki tata kelola yang baik bisa dibilang masih rendah. Munculnya figur dalam bursa cawapres yang memiliki kredibilitas dan kompetensi disertai pengalaman yang mumpuni di dalam maupun di luar pemerintahan menjadi daya tarik tersendiri bagi calon konsituen terutama komitmen terhadap pemberantasan korupsi.
Secara figur, Mahfud MD memiliki kans yang kuat untuk mendampingi Jokowi. Sosok Mahfud mampu diterima di kalangan Nahdlatul Ulama atau santri karena memang memiliki akar kultural dan historis dengan kultur dan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut. Kedekatannya dengan Gus Dur di masa lalu dan sempat menjadi tangan kanannya menjadi nilai tambah bagi figur ini. Selain dapat diterima di komunitas islam tradisional Mahfud juga diterima di kalangan Islam modern, Ia pernah menjadi pentolan Keluarga Alumni HMI. Di kalangan nasionalis Mahfud tidak mempunyai persoalan, di lingkungan yang sering disebut sebagai new santri atau santri baru ia juga bisa diterima dengan baik, terbukti ia menjadi Penasihat KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Islam). Modal sosial yang dimiliki Mahfud ini menjadi sesuatu yang patut dipertimbangkan untuk mendatangkan efek elektoral.
Muhammad Irfan
Peserta Latihan Kader III (Advance Training) Badko Jambi









0 komentar:
Posting Komentar